Selasa, 3 Maret 2015 02:40:33 WIB Dilihat : 1320 kali

Burung merupakan salah satu satwa unik di bumi yang banyak menjadi perhatian. Setiap tahunya, beberapa jenis Burung bermigrasi dari tempat asalnya yaitu belahan bumi utara menuju belahan bumi selatan. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca di belahan bumi utara yang sedang mengalami musim dingin, sehingga untuk menghindari kondisi yang ekstrim tersebut sejumlah burung mencari kehangatan di bumi selatan sebagai bagian dari proses pertahanan diri. Biasanya burung bule ini hijrah ke belahan bumi selatan mulai bulan September-Maret.

Indonesia, yang terletak di khatulistiwa menjanjikan suhu yang lebih hangat sepanjang tahun adalah salah satu wilayah transit dan tujuan dari berbagai Burung migran yang ada di dunia. Jenis yang melakukan migrasi meliputi Burung Urban (Perkotaan), Raptor (Burung Pemangsa), dan Burung pantai. Kalau berbicara tempat pengamatan burung migran di Indonesia sangat banyak sekali, mari kita persempit lagi untuk daerah Yogyakarta. Ada beberapa spot di Yogyakarta yang menjadi tempat roosting berbagai burung migrasi ini. Mulai dari Burung Urban, samping AMPLAZ menjadi rumah yang nyaman bagi burung Jalak Cina (Sturnus sturninus) dan PROGO menjadi tempat roosting Layanglayang Asia (Hirundo rustica), untuk jenis Raptor banyak spot untuk pengamatan mulai dari Bukit Jarum, Plawangan, Nglanggeran, Candi Ijo, dan Sukomoyo. Bagi jenis Burung Pantai tentu saja mengunjungi daerah yang dekat dengan pantai dan salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi adalah Delta Sungai Progo dan Pantai Trisik.

Bagi pengamat burung jogja yang dinamai PPBJ (Paguyuban Pengamat Burung Jogja) yang terdiri dari beberapa LSM dan Kelompok Studi dari berbagai Universitas di Jogja, fenomena tahunan ini sayang untuk dilewatkan. Sudah dua tahun ini BIONIC (UKM UNY) mengadakan pengamatan Burung Migrasi terutama Burung Pantai yang dinamai Festival Burung Pantai. Tahun ini, acara Festival Burung Pantai yang digawangi BIONIC diselenggarakan tanggal 18-19 Oktober 2014. Tanggal 18 Oktober diisi pematerian dari narasumber tentang Pengenalan Burung Pantai (Waskito Kukuh Wibowo), Pengenalan Pantai Trisik (Shaim Basyari, S.Pd), dan Peluang vs Tantangan Konservasi Pantai Trisik (Imam Taufiqurahman-Yayasan Kutilang Indonesia) dari jam 09.00-15.00 WIB di Gedung D03.105 FMIPA UNY. Sesi kedua, tanggal 19 Oktober Pengamatan Burung Pantai yang dilaksanakan di Pantai Trisik dan Delta Sungai Progo mulai pukul 07.00 sampai selesai yang dikolaborasikan dengan acara JBW (Jogja Bird Walk) dari PPBJ yang digunakan untuk melengkapi data burung migran setiap tahunya.

Acara ini diikuti oleh LSM dan Kelompok Studi dari berbagai Universitas di Yogyakarta maupun luar Yogyakarta. BIONIC (UNY) sebagai tuan rumah, RAIN (Raptor Indonesia), BIOLASKA (UIN SUNAN KALIJAGA), KP3 BURUNG (UGM), MATALABIOGAMA (UGM), SILVAGAMA (UGM), KSB (ATMA JAYA), HALIATER (UNDIP), KEPAK SAYAP (UNS), dan ZOOTHERA (UB MALANG), serta KOMPAS TV sebagai Media Partner.

Tidak seperti biasanya, pengamatan di Delta Sungai Progo cukup sepi dan hanya tercatat beberapa jenis saja seperti Daralaut, Trinil Pantai (Actitis hypoleucos), Trinil Pembalik-batu (Arenaria interpres), Trinil Ekor-Kelabu (Heterocelus brevipes), Kedidi Leher-merah (Calidris ruficollis), Kedidi Golgol (Calidris ferruginea), dan Gajahan Penggala (Numenius phaeopus). Kemungkinan banyak yang masih mencari makan di daerah persawahan, dan menuju Delta Sungai Progo saat sore hari.

Selain perburuan, banyak ancaman yang datang seperti alih fungsi lahan menjadi tambak udang yang kemungkinan banyak menyumbang kerusakan habitat Burung Pantai. Laguna dan aliran sungai kecil di Delta Sungai Progo maupun Pantai trisik yang dulunya banyak dikunjungi berbagai jenis Burung Pantai, sekarang sudah berdiri tanggul-tanggul dan berubah menjadi tambak udang. Belum lagi isu-isu akan dibukanya tambang pasir besi di sepanjang pesisir Pantai Trisik yang masih menjadi pro dan kontra, menambah kekhawatiran bagi para konserver terutama Pengamat Burung dan semoga saja itu tidak terjadi. Kemana burung-burung migrasi akan singgah saat tempat yang biasanya dikunjungi setiap tahun itu hilang?. Semoga bisa menjadi perhatian bagi para take holder untuk lebih memperhatikan dampak dari kegiatan tersebut terhadap kelestarian berbagai jenis burung dan satwa lainya.

Salam Konservasi…!!!!

(Sigit YN : Biologi 2011)

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom