Rabu, 17 Januari 2018 23:45:33 WIB Dilihat : 30 kali

Lesehan bareng civitas akademika perguruan tinggi se DIY dengan komunitas sungai Yogyakarta (AKSY) berlangsung Rabu, 17 Januari 2018 bertempat di Pusat Studi Lingkungan (PSL) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Momen tersebut sebagai upaya duduk bersama menyatukan paradigma disertai penyusunan langkah strategis merestorasi sungai di kota istimewa. Sebanyak 18 Perguruan Tinggi di DIY diundang untuk mengawali komunikasi dengan topik utama tentang sungai. UIN Sunan Kalijaga yang memiliki jurusan Biologi dan Pendidikan Biologi ikut andil dalam pertemuan berdurasi kurang lebih 3 jam tersebut.

Obrolan keadaan sumber daya air di Yogyakarta terupdate menjadi pembuka pertemuan pagi itu. Terlihat semua tamu undangan menyaksikan dengan seksama paparan ibu Endang Rohjati selaku pemapar diskusi. Beliau selaku sekjen AKSY menyampaikan perihal pencemaran sungai yang melanda Yogyakarta, serta mengulas histori terbentuknya forum masyarakat yang bernama Asosiasi Komunitas Sungai Yogyakarta (AKSY).

“Gerakan komunitas sungai mulai muncul ketika isu pencemaran sungai mulai diangkat ke permukaan. Saat itu salah satu pemrakarsanya adalah gerakan di sungai Code oleh Romo Mangun” sahut bu Endang melengkapi sejarah kemunculan AKSY.

“Saat ini ada 22 komunitas sungai yang tergabung dalam AKSY, yaitu Forum Komunikasi Winongi Asri, Pamerti Code, Forsidas Gadjah Wong, Komunitas Kali boyong, Komunitas Kali trasi, Komunitas Kali kuning, Komunitas Kali Tambak Bayan, Komunitas Kali bedog, Komunitas Kali Opak, Komunitas Kali Oyo, Komunitas Kali Progo, Komunitas Kali Gawe, Komunitas Kali Belik, Komunitas Kali Buntung, Komunitas Kali Widuri,dan Komunitas Garuk Sampah Yogyakarta” tambah bu Endang.

Gerakan pegiat sungai di Jawa Timur yang saat ini sudah sampai pada tindakan mendorong pemerintah daerah mengeluarkan peraturan terkait konservasi sungai, menjadi motivasi terlahirnya AKSY. Salah satunya dengan mulai menata susunan strategi yang dilakukan secara bersama-sama dalam rangka menyelamatkan ekosistem sungai.

“Sebagai penggerak konservasi sungai yang basis anggotanya adalah masyarakat, tentu akan sangat membutuhkan gandengan dengan akademisi. Karena komunitas membutuhkan sebuah narasi ilmiah ketika melaporkan status sungai yang tercemar kepada pemerintah. Dengan data tersebut pemerintah dapat merespon dengan cepat usulan komunitas, sehingga kebijakan yang mengarah pada konservasi sungai segera dikeluarkan” sahut salah satu anggota AKSY. Data pendukung yang valid dan otentik tentang keadaan sungai dihasilkan melalui sebuah penelitian.

Selepas pemaparan dan perkenalan AKSY kepada tamu undangan, giliran satu per satu memberikan respon terkait topic pembicaraan kala itu. Diawali dari UII yang hadir sebagai perwakilan jurusan magister Arsitektur. Beliau menyampaikan apresiasi terhadap gerakan masyarakat dibidang konservasi sungai di Yogyakarta sekaligus merespon positif ajakan komunitas untuk bergandengan dengan para akademis. Isu tentang air adalah isu bersama, dimana cara menyelesaikan adalah harus dilakukan secara berbarengan. Hal senada disampaikan oleh tamu undangan yang lain dari Teknik Lingkungan UPN V, ITY (STTL), Biologi UGM, Biologi dan P. Biologi UIN Sunan Kalijaga, dan Atmajaya, semua sepakat mendukung program AKSY serta siap untuk ikut serta dalam program tersebut.

Respon terakhir disampaikan oleh Pak Irawan dari Komunitas kali kuning yang menjabat sebagai salah satu presidium AKSY. Dalam paparanya secara lugas beliau menyatakan bahwa AKSY bukan LSM, namun sebah komunitas masyarakat yang tinggal di pinggir sungai secara bersama-sama berusaha mengembalikan sungai sebagai pusat peradaban. Perjalanan berkomunitas membawa beliau bersua dengan berbagai ilmu, hingga dipertemukan dengan ahli arkeologi yang meneliti sungai di masa silam.

“Pada kenyataanya Akademis berfikir, masyarakat bergerak. Sehingga perlu adanya sinergitas keduanya sehingga memunculkan sebuah Ide yang menggerakan” pungkas beliau dalam pernyataanya.

Pertemuan diakhiri dengan perencanaan lanjutan, menata langkah sinergi kegiatan AKSY dengan para akademisi. Bentuk komitmen awal tertuang dalam sebuah program berupa BIOTILIK, memonitoring kualitas air sungai Yogyakarta dengan biota sungai sebagai indikatornya. Program tersebut diagendakan sebagai rangkaian peringatan hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret. Setiap perguruan tinggi akan mendelegasikan Mahasiswanya menjadi pemandu Biotilik yang rencanaya akan melibatkan siswa-siswi dan masyarakat.

Ditulis Oleh:

M.Nur Z

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom