Jumat, 9 Februari 2018 07:49:59 WIB Dilihat : 15 kali

Pergulatan pikir yang dimediasi dengan rangakaian diskusi mengkaji sebuah informasi merupakan hal yang seyogyanya menjadi menu keseharian mahasiswa. Olah pikir yang di dasarkan pada referensi masing-masing individu, akan bernila guna ketika dipertemukan di sebuah bincangan dengan saling mengisi satu sama lain.

Rutinitas diskusi pernah mewarnai keseharian mahasiswa Biologi tahun-tahun yang lalu. Sebut saja “Mimbar Akademik, Diskusi dwipekan KS Biolaska, Diskusi KS Waterforum Kalijogo, diskusi Tim Olimpiade Biologi dan Sekolah Kandang” dan mungkin ada lokus-lokus yang tidak teridentifikasi juga melakukan diskusi. Masing-masing menjadi pengisi waktu-waktu luang di tengah kesibukan perkuliahan. Setiap pertemuan mengangkat sebuah tema yang menjadi pelengkap khazanah keilmuan serta wawasan para mahasiswa selama menuntut ilmu di UIN Sunan Kalijaga.

Tidak terbantahkan, sejak munculnya kegiatan-kegiatan diskusi diberbagai forum, ada peningkatan situasi ilmiah di kalangan mahasiswa. Bahkan hasil-hasil kajian yang telah diolah dalam ruang diskusi menjadi modal bagi mahasiswa Biologi untuk mensitesis sebuah karya. Disisi lain nampak adanya singgungan dengan dunia luar kampus yang mengakibatkan lahirnya sebuah komitmen melahirkan karya-karya secara bersama. Hal itu disebabkan karena beberapa kesempatan diskusi menghadirkan narasumber dari luar UIN yang memiliki keahlian sesuai dengan tema yang diangkat. Bertemunya dalam bincang-bincang 1 atau 2 jam tersebut menjadi langkah melakukan kolaborasi di kemudian hari.

Obrolan dengan kemasan sederhana dan santai muncul kembali di kalangan mahasiswa Biologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semarak berkoloni membagi informasi seputar keilmuan biologi yang dulu pernah hilang, kini mulai bangkit kembali. Gagasan meramaikan kembali iklim keilmuan dengan sebuah diskusi akhirnya terwujud kembali di pagi itu, kamis 8 Februari 2018 berlangsung mulai pukul 09.00 hingga menjelang dhuhur.

Diawali dengan mencoba sebuah isu yaitu “Eksosistem Sungai GadjahWong dan Biodiversitas di lingkungan UIN Sunan Kalijaga”. Sungai yang terbentang panjang dari hulu di kaki gunung Merapi dan hilir di laut selatan tersebut menyisakan sejengkal wilayahnya menjadi bagian dari kampus UIN Sunan Kalijaga. Sudah barang tentu civitas akademika Biologi mempunyai kewajiban ikut serta menengok dan kemudian melakukan langkah konservasi disana. Sebab bagian kecil yang terletak tepat di sebelah timur kampus saat ini dalam keadaan yang memilukan.

Beberapa penelitian yang pernah di lakukan menyatakan sungai Gadjah wong sudah masuk kategori sungai tercemar. Supriyanto C dan Sunardi dari Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan-BATAN menyebutkan “Dalam cuplikan sedimen gadjah wong terdeteksi logam berat Pb, Cd, Cu, Mn, dan Fe. Dan cenderung mengalami peningkatan apabila dibandingkan dari daerah hulu, perkotaan, dan hilir namun rerata Cd tersebar secara merata”. Kemudian pernyataan Risyanto dan Widyastuti (Pengaruh Perilaku Penduduk Dalam Membuang Limbah Terhadap Kualitas Air Sungai Gajahwong) menunjukkan bahwa pencemaran yang terjadi di wilayah sungai Gajah Wong sebagian besar diakibatkan oleh salah satunya adalah kegiatan domestik, cara pembuangan limbah cair dari kamar mandi bervariasi, yaitu riol (3l,7%), septic tank (5%), saluran terbuka (20%), tempat terbuka (26,7%) dan sungai (16,7%).

Muhammad Jafizhan (Mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM) Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beda nyata untuk nilai suhu, kecepatan arus, TDS, pH, keanekaragaman dan kepadatan plankton pada lokasi penelitian, sedangkan untuk parameter lain tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Indeks pencemaran ketiga lokasi (hulu, tengah, dan hilir) di Sungai Gajah Wong berada pada kisaran nilai antara 2,100 sampai 2,515 yang artinya ketiga lokasi (hulu, tengah, dan hilir) tercemar ringan (1,0 < PIj ≤ 5,0).

Sejalan dengan rangkaian referensi yang ada yang dimunculkan dalam diskusi kala itu, beberapa mahasiswa yang hadir ikut memberikan tanggapan, komentar serta pernyataan bahwa keadaan sungai gajah wong di daerah kampus sudah tidak baik . Pernyatan itu muncul dari pengalaman mahasiswa Biologi yang pernah melakukan kegiatan baik penelitian, survey, maupun praktikum di sungai tersebut.

Kemudian diskusi dilanjutkan dengan menilik kekayaan biodiversitas yang ada di lingkungan UIN yang ditempatkan sebagai objek untuk menimba ilmu. Karena dari merekalah muncul berbagai informasi yang sangat membantu mahasiswa dalam mengkaji ilmu Biologi. Bahkan dari biodiversitas beserta ekosistemnya yang terdapat di kampus menjadi modal mahasiswa dalam berkarya. Tahun 2017 lahir karya KS Biolaska berupa buku dengan judul “ Biodiversitas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta” dalm 2 seri, seri Flora dan Fauna. Sebelumnya karya pertama yang di munculkan adalah Buku Kupu-Kupu kampus di tahun 2012.

Dengan diskusi kecil ini akan muncul sebuah teorama baru, menggugah mahasiswa Biologi karena mengetahui keadaan terupdate lingkungan serta potensi biodiversitas kampus UIN. Semoga menjadi dorongan untuk senantiasa memunculkan ide bagaimana langkah kedepan supaya mereka tetap lestari.

Ditulis Oleh :

M Nur Z

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom