Workshop dan FGD Konsorsium Keilmuan FST

Ayat-ayat kauniyah adalah alam semesta yang diciptakan Allah. Umat Islam (khususnya para sarjana, ilmuwan, intelektual, cendekiawan dan saintis Muslim) hendaknya terpanggil secara moral dan secara intelektual untuk “membaca” alam semesta ini sebagai wahyu Allah yang tidak tertulis, memahami hukum-hukumnya, menelaah fenomenanya, dan membuka rahasianya dengan menggunakan kepekaan iman yang mendalam dan akal pikirannya yang rasional, cerdas dan kritis. Hasil studi, telaah dan kajian ilmiah tentang hukum alam, fenomena alam dan rahasia alam ini akan melahirkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dengan segala cabangnya (ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam) yang dihasilkan berdasarkan daya kepekaan iman dan kekuatan penalaran akal akan mengantarkan para ilmuwan Muslim semakin beriman, taqarrub dan takwa kepada Allah swt.

Teknologi adalah ilmu pengetahuan terapan yang dipakai sebagai metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis. Sesuai dengan jenis, sifat dan kegunaannya, dewasa ini teknologi yang dihasilkan oleh kemampuan akal dan keterampilan tangan manusia sudah sangat beragam. Misalnya, ada teknologi pangan, teknologi pertanian, teknologi nuklir, teknologi transportasi dan teknologi informasi dan komunikasi. Berkat kemajuan teknologi komunikasi yang modern dan canggih, orang sudah dengan mudah bisa berkomunikasi langsung antarbenua. Jarak yang sangat jauh sekali pun sudah tidak lagi menjadi persoalan karena sudah ada alat komunikasi yang dipergunakan oleh manusia untuk bisa berkomunikasi secara langsung. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain sudah dapat disaksikan secara langsung di Tanah Air kita melalaui televisi atau video yang diunggah melalui media sosial. Di bidang pertanian, mesin traktor sudah menggantikan alat tradisional (bajak) sehingga para petani lebih mudah, nyaman dan praktis bercocok tanam di ladang dan sawah.

Islam adalah agama untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Islam bukan agama yang membelakangi dan acuh tidak acuh terhadap kehidupan dunia. Dalam Islam, kehidupan dunia harus dijalani dan manusia Muslim harus bergumul dengan kehidupan dunia dengan segala aspek dan tantangannya agar tetap survive. Teknologi adalah bagian penting dan strategis dari hidup dan kehidupan keduniawian. Sebagai agama yang diperuntukkan untuk kehidupan dunia, Islam tidak menolak jenis teknologi apa pun sepanjang teknologi itu diciptakan, dibangun dan dikembangkan sesuai ajaran dan nilai-nilai Islam demi kebaikan, kenyamanan, kepraktisan dan kesejahteraan hidup manusia. Seperti dikatakan di atas, umat Islam boleh dan bisa memanfaatkan teknologi komunikasi karena teknologi jenis ini dapat menghubungkan orang berbicara secara langsung antarkota, antarpulau dan antarbenua. Kemajuan teknologi transportasi (pesawat terbang yang modern dan canggih) telah membuat jamaah haji merasa mudah, nyaman dan praktis untuk pergi haji dan cepat sampai di Tanah Suci Mekkah dalam hitungan jam.

Akan tetapi Islam sangat menolak dan sama sekali tidak membenarkan penggunaan teknologi yang tidak sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai Islam. Misalnya, teknologi kedokteran yang digunakan untuk praktik aborsi, sewa rahim dan bank sperma –seperti yang terjadi di negara-negara sekuler Barat– sudah pasti tidak dibenarkan dalam Islam. Jejaring media sosial yang dipergunakan untuk menyebarhoax(berita bohong, dusta dan palsu) atau dipakai untuk menyebarkan fitnah dan ucapan kebencian bermotif SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) sudah pasti tidak dibenarkan dalam Islam. Teknologi nuklir yang dipakai untuk tujuan perang dan memprodukasi senjata pembunuh massal, sudah pasti sangat dilarang dalam Islam. Ringkas kata, Islam menolak dan tidak membenarkan jenis teknologi apa pun yang dipergunakan untuk tujuan yang buruk, jahat, palsu, culas dan batil.

Dalam perspektif Islam, sebenarnya tidak ada masalah dan tidak ada yang salah dengan teknologi jenis apa pun. Sesungguhnyalah, teknologi itu bersifat netral. Ia ibarat pisau. Kalau digunakan untuk tujuan kebaikan, misalnya untuk mengupas mangga atau mentimun, sudah pasti pisau itu sangat bermanfaat. Kalau dipakai untuk berbuat jahat dan tujuan kriminal, misalnya untuk bunuh diri atau membunuh orang tidak berdosa, pisau itu mendatangkan mudarat. Dalam perspektif Islam, tekonologi jenis apa pun harus digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Islam, sains dan teknologi tidak dapat dipisahkan dan diceraikan. Memisahkan sains dan (penggunaan) teknologi dari agama akan menghasilkan sains sekuler dan penggunaan teknologi menjadi tidak terkendali dan jauh dari nilai-nilai agama. Dalam perspektif Islam, ajaran dan nilai-nilai agama secara konsisten selalu mengawal, mengendalikan dan mengarahkan (perkembangan) sains dan teknologi ke arah kebaikan, kebajikan dan kemaslahatan hidup manusia. Dengan demikian, sains dan teknologi selain selalu terkait, terhubung dan terintegrasi dengan agama, juga memberikan kenyamanan, kebaikan dan kemaslahatan dalam kehidupan manusia.* (ringkasan)

*Materi dipresentasikan dalam kegiatan FGD Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijga