Pengelolaan Sampah Organik Menggunakan Larva Black Soldier Fly (BSF)

Gunung Kidul – Tim KKN UIN Sunan Kalijaga Angkatan 105 Kelompok 38 di bawah bimbingan DPL Dian Aruni Kumalawati, M.Sc. melaksanakan kegiatan pengabdian di Dusun Singkil, Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Gunung Kidul. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat terintegrasi KKN ini dilaksanakan pada tanggal 12 Juli – 31 Agustus 2021 dengan mengangkat tema “Optimalisasi Potensi Dusun Singkil pada Era New Normal”. Program kegiatan yang berhasil dilaksanakan adalah Posbindu PTM atau Pengawasan Kesehatan Sesepuh Singkil (PKSS) bekerja sama dengan volunteer dari UNISA, Rumah Pintar, Taman Pendidikan Al-Qur’an Ceria di Tengah Pandemi, penyuluhan vaksinasi Covid-19, pengolahan sampah organik menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF), literasi digital, penempelan nomor rumah, dan pembuatan taman baca masyarakat.
Pengolahan sampah organik menggunakan larva BSF adalah sebuah bentuk upaya pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Sampah organik berpotensi untuk dikelola menjadi kompos. Salah satu alternatif yang dapat digunakan alam pengomposan adalah dengan menggunakan larva dari lalat jenis Black Soldier Fly (Hermetia illucens). Larva BSF mampu mengonsumsi sampah organik dalam jumlah besar secara lebih cepat dan lebih efisien. Hal ini disebabkan oleh enzim pencernaannya yang bersifat lebih aktif. Pengolahan sampah dengan BSF diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah organik. Hal ini juga bisa menjadi solusi bagi masyarakat untuk memberikan pakan alternatif bagi hewan ternak seperti ayam, burung, dan ikan karena kandungan protein pada larva BSF yang tinggi. Selain itu, kegiatan ini berupaya untuk memanfaatkan kompos organik sebagai pupuk alami bagi tanaman. Pada tahap persiapan, Tim KKN membeli telur larva BSF untuk ditetaskan dan diberi makan berupa sampah organik. Setiap tahapan pemeliharaan tersebut direkam sebagai bahan pembuatan video tutorial pengolahan sampah. Tim KKN menyosialisasikan pengelolaan sampah melalui video dan brosur yang diberikan kepada warga melalui ketua RT.
Allah menciptakan berbagai macam ciptaan berupa benda mati, tumbuhan, binatang, malaikat, jin, dan manusia dengan peran dan fungsi masing-masing. Hal ini didasarkan pada firman Allah swt yang menyatakan bahwa, “Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main (berarti ada tujuan). Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Q.S. ad-Dukhān: 38-39).
*Beberapa poin yang dapat disarikan dari wawasan Al-Qur′an tentang eksistensi binatang adalah:
1. Eksistensi binatang sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah
Al-Qur′an menegaskan bahwa diciptakannya alam semesta dengan segala isinya termasuk binatang adalah untuk kepentingan manusia. Eksistensi semua makhluk
hidup merupakan bukti kemahakuasaan Allah subhānahu wa ta‘ālā. Di antara alasannya adalah setiap ciptaan Allah mencirikan perencanaan sang Pencipta sehingga penciptaan binatang-binatang juga bagian dari upaya untuk memperlihatkan kecanggihan, ketepatan, dan kecerdasan Allah subhānahu wa ta‘ālā yang tidak terbatas.
2. Binatang adalah bagian dari umat seperti manusia
Persamaan aneka binatang dengan manusia sebagai umat adalah keserupaan dalam bidang tertentu, bukan dalam keseluruhan. Misalnya, binatang juga hidup berproses dari kecil hingga besar, dapat merasa, memiliki berbagai macam naluri, ada yang memiliki komunitas dengan hierarki kepemimpinan. Al-Qur′an juga mengabadikan persamaan binatang dengan manusia dalam aspek pemberian rezeki dari Allah subhānahu wa ta‘ālā.
3. Binatang pun bertasbih memuji Allah
4. Binatang sebagai bagian dari kesenangan dunia
Binatang ternak adalah bagian dari kesenangan hidup di dunia seperti halnya bentuk kesenangan dunia lainnya. Dalam posisinya sebagai bagian dari kesenangan dunia, binatang ternak adalah simbol kekayaan dan gengsi bagi seseorang. Cara pemanfaatannya bermacam-macam, ada yang berfungsi sebagai alat angkutan, ada yang dimanfaatkan bulunya sebagai bahan pakaian, dagingnya untuk dimakan, susunya dapat diminum bahkan sebagai hobi/kesenangan dalam memeliharanya.
5. Binatang sebagai perumpamaan yang buruk bagi Manusia
Orang yang melalaikan petunjuk Allah subhānahu wa ta‘ālā diserupakan dengan binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Ayat yang menegaskan hal ini adalah Surah al-A‘rāf: 179
“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
6. Binatang yang dikaitkan dengan pemanfaatannya oleh manusia
Dalam hal ini binatang yang dihalalkan untuk dikonsumsi dan binatang yang berfungsi untuk berkurban.
*Berdasarkan Tafsir Al-Qur'an Tematik “Pelestarian Lingkungan Hidup”, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI Tahun 2009