Pekan Raya Biologi ke-14 UIN Sunan Kalijaga Angkat Potensi Mikroorganisme untuk Inovasi Keberlanjutan dan Kesehatan Global
Pekan Raya Biologi ke-14 UIN Sunan Kalijaga Angkat Potensi Mikroorganisme untuk Inovasi Keberlanjutan dan Kesehatan Global
Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Nasional sebagai puncak rangkaian kegiatan Pekan Raya Biologi (PRB) ke-14 Tahun 2026. Mengusung tema “Tiny Giants: Harnessing Microbial Innovation for Global Sustainability and Health”, kegiatan ini mengangkat potensi besar mikroorganisme dalam mendukung inovasi di bidang pertanian, lingkungan, bioteknologi, dan kesehatan.
Seminar nasional tersebut menghadirkan dua narasumber dengan kepakaran di bidang mikrobiologi, yaitu Dr. Lela Susilawati, S.Pd., M.Si., Ph.D., dosen Program Studi Biologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta Dr. Raden Ludang Pradipta Rizki, M.Biotek., Sp.K., pakar mikrobiologi klinis. Diskusi dipandu oleh Syahla Maulia Alifidya Alim, mahasiswa Program Studi Biologi UIN Sunan Kalijaga.
Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Biologi, Dr. Ika Nugraheni Ariwi, S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa Pekan Raya Biologi merupakan agenda tahunan yang menjadi wadah pengembangan kompetensi, kreativitas, dan jejaring keilmuan bagi mahasiswa maupun pelajar. Memasuki penyelenggaraan ke-14, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga sarana berbagi pengetahuan dan membangun kolaborasi antara biolog dan calon biolog.
Menurutnya, mikroorganisme merupakan organisme berukuran sangat kecil yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan. Hal tersebut menjadi landasan penting untuk terus mengembangkan penelitian dan inovasi berbasis mikroorganisme. Ia berharap seminar ini dapat membuka wawasan serta menginspirasi lahirnya gagasan dan penelitian baru yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pada sesi pemaparan pertama, Dr. Lela Susilawati mengangkat topik mengenai keanekaragaman mikroba dan potensinya dalam mendukung inovasi berkelanjutan, khususnya di bidang pertanian. Ia menjelaskan bahwa mikroorganisme memiliki keanekaragaman dan kemampuan adaptasi yang tinggi, tetapi sebagian besar potensinya masih belum tereksplorasi. Kondisi tersebut membuka peluang luas bagi pengembangan penelitian mikrobiologi dan bioteknologi.
Salah satu fokus penelitian yang dipaparkan adalah mikrobioma kulit amfibi, khususnya komunitas bakteri yang berasosiasi dengan kulit katak. Penelitian tersebut mengkaji keanekaragaman mikroorganisme, interaksinya dengan inang dan lingkungan, serta potensi senyawa bioaktif yang dihasilkan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi komposisi mikroorganisme pada bagian tubuh katak yang berbeda. Sejumlah bakteri yang ditemukan juga menunjukkan potensi aktivitas antijamur terhadap patogen tanaman, seperti Colletotrichum dan Fusarium. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan mikroorganisme sebagai agen pengendalian hayati (biocontrol) untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan terhadap pestisida sintetis.
Meski demikian, Dr. Lela menegaskan bahwa pengembangan potensi tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan. Pengujian pada skala lapangan, optimasi formulasi, serta evaluasi ketahanan mikroorganisme terhadap kondisi lingkungan menjadi tahapan penting sebelum hasil penelitian dapat diaplikasikan secara luas.
Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Raden Ludang Pradipta Rizki, membahas peran mikroorganisme dalam bidang kesehatan, terutama berkaitan dengan tantangan resistensi antimikroba atau resistensi antibiotik. Dalam pemaparannya, ia menyoroti bahwa resistensi antibiotik merupakan ancaman kesehatan global yang dapat mengurangi efektivitas pengobatan infeksi bakteri.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan antibiotik yang berlebihan (overuse), tidak tepat (misuse), maupun tidak sesuai ketentuan penggunaan (underuse) dapat mendorong munculnya bakteri resisten. Persoalan ini semakin kompleks karena resistensi bakteri dapat menyebabkan pilihan pengobatan menjadi semakin terbatas.
Salah satu pendekatan yang disoroti adalah pemanfaatan vaksin sebagai strategi pencegahan infeksi. Berbeda dengan antibiotik yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri, vaksin bekerja dengan mempersiapkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali patogen lebih awal. Dengan demikian, pencegahan infeksi melalui vaksinasi berpotensi menekan kebutuhan penggunaan antibiotik dan membantu mengendalikan perkembangan resistensi.
Kedua pemaparan tersebut memperlihatkan bahwa mikroorganisme memiliki peran yang sangat luas, baik dalam menjaga keseimbangan ekosistem, mendukung produktivitas pertanian, maupun mempertahankan kesehatan manusia. Melalui pendekatan penelitian dan inovasi bioteknologi, keanekaragaman mikroba dapat dikembangkan menjadi sumber solusi untuk menjawab berbagai tantangan global.
Selain seminar nasional, rangkaian puncak Pekan Raya Biologi ke-14 juga diisi dengan penyerahan sertifikat kepada narasumber dan moderator serta pengumuman pemenang kompetisi Biolimpik dan BioAI. Kompetisi yang telah berlangsung pada Agustus hingga September 2026 tersebut menjadi wadah bagi pelajar dan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik, kreativitas, serta ketertarikan terhadap ilmu biologi.
Dalam sambutan pembukaan sekaligus mewakili Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Ir. Muhammad Taufik Nuruzzaman, Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada panitia mahasiswa, peserta, dan seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan. Ia juga berharap Pekan Raya Biologi pada tahun mendatang dapat berkembang lebih luas, bahkan memiliki jangkauan internasional.
Melalui penyelenggaraan Pekan Raya Biologi ke-14, Program Studi Biologi UIN Sunan Kalijaga menegaskan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang produktif, kolaboratif, dan berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya melahirkan generasi muda yang berprestasi dalam kompetisi, tetapi juga calon ilmuwan yang mampu menghasilkan inovasi dan memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan lingkungan serta kesehatan masyarakat.
Pekan Raya Biologi menjadi ruang pertemuan antara pendidikan, penelitian, kompetisi, dan kolaborasi untuk mendorong kemajuan ilmu biologi dalam menjawab tantangan masa depan.