Kajian beban pencemaran dan daya tampung beban pencemaran Sungai Gajahwong

Dosen Prodi Biologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Siti Aisah, M.Si., dan Ardyan Pramudya Kurniawan, S.Si., M.Si. terlibat dalam kajian beban pencemaran Sungai Gajahwong. Sungai Gajahwong merupakan salah satu dari tiga sungai utama yang membelah Yogyakarta. Gajahwong merupakan sebuah Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai bagian dari DAS Opak. Selain Sub DAS Gajahwong, DAS Opak menampung air dari Sungai Winongo dan

Sungai Code.

Sungai Gajahwong dibagi menjadi dua golongan mutu air, yaitu kelas I dan II. Bagian hulu masuk kelas I dan digunakan sebagai bahan baku sumber air minum yang perlu diolah terlebih dahulu. Di bagian tengah ke hilir masuk kelas II, yaitu digunakan untuk prasarana rekreasi air, pembudidayaan ikan, perternakan, dan irigasi pertanian. Disinyalir, aliran-aliran limbah rumah tangga dan industri yang mengalir ke Gajahwong menyebabkan pencemaran dan penurunan kualitas air sungai. Gajahwong telah mendapatkan paparan polutan antropogenik, baik yang bersifat point-source maupun non-point source pollution. Kajian mengenai beban pencemaran merupakan sebuah kegiatan untuk mengukur jumlah suatu bahan pencemar yang terkandung dalam air. Secara matematis, beban pencemaran didefiniskan sebagai jumah/massa bahan pencemar dalam satuan waktu tertentu, misalnya ditunjukkan dengan satuan kg/hari.

Kegiatan kajian ini menghasilkan kesimpulan berikut.

  1. Sumber pencemar Sungai Gajahwong segmen Kota Yogyakarta ada dua, yaitu sumber pencemar titik dan bukan titik. Persentase sumber pencemar point source berupa hotel dan perumahan, rumah sakit dan klinik, rumah makan, industri. Sumber pencemaran bukan titik berupa domestik dan sampah. Beban pencemaran Sungai Gajahwong didominasi oleh sector rumah tangga.
  2. Kualitas air dengan parameter BOD pada Sungai Gajahwong segmen Kota Yogyakarta bagian hilir sebagian besar melebihi baku mutu air kelas II. Terjadi penurunan kualitas air dari hulu hingga hilir. Sedangkan pada parameter TSS dan logam Cr masih memenuhi baku mutu.
  3. Beban pencemaran Sungai Gajahwong untuk parameter BOD sebesar 369,58 kg/hari dengan beban pencemaran terbesar berasal dari sekor domestik, sebesar 21.990,528 kg/hari untuk TSS, dan 28,7 kg/hari untuk parameter Cr.
  4. Daya tampung untuk TSS dan Cr masih dapat menampung beban pencemaran, namun untuk parameter BOD beberapa kecamtan sudah tidak bisa menampung beban pencemar. Kecamatan yang sudah tidak bisa menampung beban Pencemaran BOD yaitu, Gondokusuman, Umbulharjo, dan Kotagede secara lebih spesifik pada Baciro, Demangan, Muja-muju, Pandeyan, Rejowinangun, Prenggan dan Purbayan.

Program kegiatan yang disarankan berdasarkan temuan pada kegiatan ini antara lain:

  1. Program pengurangan beban pencemaran, terutama dari beban pencemar BOD perlu dilakukan. IPAL komunal yang sudah ada perlu dipantau efektifitasnya dalam mengurangi beban pencemaran.
  2. Perlu dilakukan seleksi dalam pemberian izin kegiatan untuk segmen sungai yang telah melebihi daya tampung beban pencemarannya.
  3. Perlu dikaji mengenai potensi pemanfaatan sistem kuota beban pencemaran dengan memberlakukan biaya yang ditimbulkan oleh kerusakan atau pungutan emisi.
  4. Karena besarnya kontribusi sektor domestik terhadap beban pencemaran Sungai Gajahwong maka diperlukan sosialisai dan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai tentang sumber pencemar dan penangannya pada level rumah tangga.

Meskipun metode QUAL2Kw dapat diterima penggunaannya, namun demikian model hanya berlaku untuk satu set data pemantauan saja sehingga hasil pemodelan pada kajian ini hanya merupakan gambaran daya tampung beban pencemaran sesaat. Di masa depan untuk mendapatkan model yang lebih baik maka diperlukan ketersediaan infrastruktur eksplorasi data sungai.