Program Warga Bantu Warga, meringankan saudara di kala pendemi

Sarana untuk menggantungkan sembako
DIY – Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilakukan oleh mahasiswa di bawah arahan seorang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Kuliah Kerja Nyata telah menjadi bagian dari aktivitas pendidikan yang menuntut mahasiswa untuk menjadi agen problem solving di masyarakat. Tim KKN Angkatan ke-105 Kelompok 170 melakukan kegiatan pengabdian di Desa Kalirandu, Bangunjiwo, Kasihan, DIY di bimbingan Dosen Prodi Biologi, Shilfiana Rahayu, M. Sc. Pelaksanaan kegiatan pengabdian dimulai pada tanggal 13 Juli 2021 sampai dengan 31 Agustus 2021. Tim ini terdiri dari dua belas mahasiswa dari berbagai prodi dan fakultas.
Program kegiatan KKN terdiri dari program kerja unggulan dan program kerja penunjang. Program unggulan meliputi Pembuatan Struktur Desa, Program Warga Bantu Warga, dan pembuatan Konten Edukasi Covid-19: vaksin; pentingnya berjemur; dan penggunaan masker dobel. Sementara program penunjang meliputi pengadaan bantuan masker dan hand sanitizer, sosialisasi literasi digital, pengadaan bantuan sealer untuk UMKM setempat, pelatihan desain, dan pembuatan konten keagamaan: mensyukuri nikmat sehat; vaksin dalam pandangan islam; dan hikmah ujian.
Program Warga Bantu Warga ditujukan khususnya untuk warga yang menjalani isolasi mandiri karena terdampak Covid-19. Program kerja ini berupa pengadaan fasilitas untuk menggantungkan sembako dan ditempatkan di Balai Dusun Kalirandu. Fasilitas tersebut “diisi” dengan paket sembako yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan warga yang sedang melakukan isoman. Adapun sosialisasi mengenai fasilitas ini dilakukan melalui infografis yang disebarluaskan melalui grup Whatsapp warga dusun. Program ini disambut dengan sangat antusias, terbukti dengan banyaknya bantuan sembako dari tim PKK.
Dampak pandemi dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Maka sudah sepatutnya bila mahasiswa sebagai agen perubahan di masyarakat, menjadi penggerak untuk turut serta membantu dan meringankan beban anggota masyarakat lainnya. Menolong orang lain dalam kebaikan adalah perbuatan mulia. Al-Qur’an telah menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan bentuk terbaik (ahsanu taqwim). Manusia dibekali dengan panca indera dan bentuk fisik yang indah, juga akal pikiran yang membuatnya kreatif dan dapat memaknai hidup. Inilah keistimewaan manusia dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Manusia merupakan makhluk individual sekaligus makhluk sosial sehingga menolong orang lain yang membutuhkan termasuk perbuatan yang sangat dianjurkan. Tolong menolong menjadi ajakan utama yang diulang-ulang dalam Al-Qur’an maupun hadits.
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya...” (H.R. Muslim)
Hadits tersebut memuat pesan yang cukup spesial, yaitu bahwa Allah “terlibat” secara langsung, seolah-olah berada di balik orang-orang susah dan siap memberi balasan setimpal bagi yang mau membantu orang-orang ini. Allah secara verbal berjanji akan memudahkan dan menolong orang yang mau menolong hamba-Nya. Orang yang gemar mengulurkan tangan kepada orang lain juga akan memperoleh kedudukan yang istimewa di sisi Allah. Suatu ketika ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah. Lalu ia bertanya: wahai Rasulullah, siapa orang yang paling dicintai oleh Allah? Dan apa amalan yang paling dicintai oleh Allah? Rasulullah pun menjawab:
“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kegembiraan seorang mukmin, menghilangkan salah satu kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.” (H.R. Ath-Thabrani)
(Echi)